Fitness Status

Posted by on Jan 21, 2014 in Health Surveillance | 4 comments

Fitness Status

Berkali saya diminta untuk membuat standar Fit/layak kerja pada karyawan baru berdasarkan hasil MCU karyawan baru.

Sambil memandangi muka orang yang meminta tersebut dalam – dalam saya mikir, ini pasti karena sebagian besar orang tidak paham pola pikir seorang dokter dalam menentukan Fitness Status karyawan baru.

Jika saya membuat standar dari hasil MCU dengan sekitar 90 item pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lainnya maka berapa banyak dan bagaimana caranya menentukan Fit atau tidak.

Jika dibuat satu persatu tentunya sangat janggal karena Fit tidaknya seseorang tidak dilihat dari satu persatu hasil Laboratorium atau pemeriksaan karena akan menjadi tidak wajar jika seorang kandidat dibuat Unfit hanya karena Kolesterol 250 mg/dL, atau karena Hematokrit 50 %.

Dijelaskan bagaimana pun manajemen tidak mengerti juga dan tetap meminta standar Fit karyawan baru.

Fit tidaknya karyawan juga tergantung mau bekerja sebagai apa? resepsionis atau Operator buldozer ?

Tentunya Fit Unfitnya harus disesuaikan dengan jenis pekerjaannya. Jadi Saya harus membuat standar untuk semua jenis pekerjaan ?

Seorang dokter dalam mengevaluasi hasil pemeriksaan laboratorium atau fisik atau apapun tidak pernah melihat satu persatu kelainan secara segmental, semua dilihat sebagai suatu kesatuan yang sokor – sokor termasuk dalam sebuah sindrome.

Tapi ada suatu status kesehatan yang bisa digunakan pada semua pekerjaan secara umum yang didapat dari pemeriksaan umum dokter :

Tanda Vital

Nadi, Pernafasan, Tekanan Darah, Suhu Badan

Status Gizi

Uomo Vitruviano Leonardo Da Vinci (wikipedia)

Uomo Vitruviano Leonardo Da Vinci (wikipedia)

Tinggi badan, Berat badan, IMT.

Tingkat Kesadaran

Kulit  

Dermatitis atau kelainan kulit luas

Kepala

Tulang,Kulit kepala, Rambut

Mata

Visus, Konjungtiva, sklera, buta warna, kedalaman penglihatan.

Telinga Hidung Tenggorok

Serumen, membrana timpani, liang telinga, rongga hidung, nyeri ketok sinus, paring, laring, tonsil.

Leher

Gerakan leher, kelenjar thyroid.

Dada

Mammae

Paru

Auskultasi, Perkusi.

Jantung

Bunyi jantung

Abdomen/perut

Bising usus, hati, limpa, ginjal, uterus, adneksa, kandung kemih, pemeriksaan hemoroid.

Tulang – sendi

Vertebra, ekstremtas atas, ekstremitas bawah, kekuatan otot.

Saraf/Fungsi luhur

Daya ingat, orientasi, kesan saraf otak (I,II,III,IV,V,VI,VII,VIII,IX,X,XII,XII), refleks.

Kelenjar getah bening

Leher, Submandibula, ketiak, inguinal.

=============================================

Masing – masing pemeriksaan fisik itu jika ditemukan kelainan kemungkinan kelainan yang serius.

Misalnya jika pada pemeriksaan jantung pakai stetoskop terdengar suara lain dari suara normal biasanya kelainannya parah. So (godong mlinjo) jangan abaikan pemeriksaan fisik dokter.stetoskop

Tapi jika dokter MCU dibayar 5000 perak buat pemeriksaan pasien, jangan harap dapat hasil yang diharapkan. Stetoskop juga dapat mengenali (maksudnya telinga dokternya) kelainan paru dan perut hanya dengan stetoskop.

Pemeriksaan fisik oleh dokter dapat menyaring kelainan besar pada tubuh manusia misalnya salah satu mata tak berfungsi, deformitas anggota tubuh, kelainan  saraf, tumor pada kulit, pembesaran kelenjar, gendamg telinga yang sobek dan lain – lain.

Dengan pemeriksaan fisik yang teliti dapat ditetapkan Fitness Status karyawan baru/lama, terlepas dari apapun jenis pekerjaan yang dituju.

Sebaiknya baca juga post ini , post tersebut tentang hasil – hasil laboratorium dan kelainan yang mungkin.

Setelah lolos penetapan kesehatan secara umum tadi, maka mulai dipertimbangkan pemeriksaan fisik lain yang spesifik untuk kelainan atau pekerjaan tertentu.

Saya mengambil contoh pekerjaan di bidang Logistik dan Mekanik.

Pada pemeriksaan logistik persyaratannya antara lain :

  • Tanda vital semua normal.
  • Kemampuan otot; tidak ada kelemahan otot pada ekstremitas.
  • Kesehatan saraf terutama saraf ekstremitas; tidak ada Carpal tunnel syndrome.
  • Kemampuan membedakan warna.
  • Kesehatan tukang belakang; tidak ada HNP.
  • Laboratorium standar (darah kengkap, urin lengkap, X ray torak) baik.
  • Perlu audiometri untuk fungsi pendengaran.
  • Pertimbangan terhadap alergi debu.
  • Pemeriksaan laboratorium lain disesuaikan dengan penyakit tertentu (analisis dokter perusahaan).

Pada pemeriksaan Mekanik persyaratannya relatif sama dengan Logistik hanya saja lebih mendetail atau lebih ketat dalam kemampuan otot dan penglihatan.

 

Oleh Arief Wahyu Mulyana

 

468 ad

4 Responses to “Fitness Status”

  1. kharina anjarsari says:

    Setuju dok..sy prnah denger curhatan temen krna dia d tolak salah satu bumn hanya krn hasil mcu nya d temukan kolesterol total nyaris 300..tp oleh prusahaan, beliau d beri kesempatan utk mencoba lagi dg sarat kolesterolnya harus turun dan normal.. walhasil tmn sy diet ketat.. bbrp bln kmudian dia d panggil lg uyk mcu dan benar saja kolesterol nya suda normal.dan ahirnya dia d terima d bumn tsb.. sy stuju dg prnyataan dr.arief, tdk bs menyatakan sseorang tidak fit hanya dg melihat satu unsur.. dan sy stuju dg sistem bumn tsb dg mmberi ksempatan lagi kepada calon karyawannya..

    • Masalahnya bagaimana menyakinkan manajemen bahwa pola pembuatan keputusan dokter untuk Fit Unfit bisa dipahami. Mau nggak mau memang harus ada sedikit standar kesehatan untuk beberapa kondisi kesehatan yang jelas misalnya DM, Hipertensi dan lain – lain yg jelas berisiko untuk pekerjaan.

  2. Dok, apakah ada standar / batasan waktu status fit / unfit karyawan yg melakukan medical check up harus sudah di rilis?
    Misalnya unt mcu satu orang atau mcu kolektif suatu perusahaan, sama standar waktu rilis hasil mcunya?

Leave a Reply