Noise Induce Hearing Loss

Posted by on Dec 22, 2013 in Diagnosis | 6 comments

Noise Induce Hearing Loss

Disadur dari : American College of Occupational Medicine Guideline Statement

Definisi

Occupational NIHL berlawanan dengan akustik trauma, kehilangan pendengaran yang dimaksud adalah pajanan yang terus menerus atau intermiten durasinya, dan biasanya terjadi secara lambat selama beberapa tahun.

Ini kontras dengan akustik trauma , yang memiliki karakteristik tiba – tiba yang langsung menurunkan fungsi pendengaran oleh pajanan tunggal suara keras atau ledakan. Diagnosis ditegakkan oleh seorang Dokter Kesehatan Kerja atau Spesialis Okupasi dengan mengacu pada riwayat pajanan dan memperhatikan karakteristik dari kelainan atau pemeriksaan penurunan pendengaran tersebut.

Karakterisktik


Karakteristik yang prinsip adalah :

  • Selalu bersifat sensorik/saraf, pertama kali berefek pada rambut koklea didalam telinga dalam.
  • Selalu bilateral dan kebanyakan pola audiometrinya simetrik.
  • Tanda pertama adalah takik pada audiometri pada frekuensi 3000, 4000 atau 6000 Hz dan menanjak pada 8000 hz.
    • Takik ini terjadi pada salah satu frekuensi dan merambat pada frekuensi yang lain pada pajanan yang terus menerus. Hal ini seiring dengan bertambahnya usia akan melandaikan takiknya. Sehingga pada manula efek kebisingan ini sulit dibedakan dengan penurunan pendengaran yang seiring dengan usia (presbikusis) tanpa melihat riwayat seri pemeriksaan audiometri sebelumnya.
    • Lokasi dari takik tergantung dari multiple faktor termasuk frekuensi yang menyebabkannya dan ukuran dari kanal telinga.
    • Pada tahap awal NIHL, rata – rata ambang pendengaran pada freuensi rendah 500, 1000 dan 2000 Hz lebih baik daripada rata – rata ambang 3000, 4000 dan 6000 Hz, dan biasanya frekuensi 8000 Hz lebih baik dari takik terdalam. Hal ini berbeda pada presbikusis yang menunjukkan pola tidak ada perbaikan pada 8000 Hz
    • Meskipun OSHA tidak mensyaratkan tes audiometri pada frekuensi 8000 Hz, tapi pemeriksaan pada frekuensi ini sangat direkomendasikan untuk membedakannya.
    • Pajanan kebisingan tersendiri tidak menyebabkan penurunan pendengaran pada pajanan lebih dari 75 dB pada frekuensi tinggi atau 40 dB pada frekuensi rendah. Namun demikian, individu dengan non-NIHL, seperti presbikusis mungkin memiliki ambang dengar yang lebih tinggi.
    • Penurunan pendengaran yang berhubungan dengan kebisingan yang terus menerus atau intermiten meningkat secara cepat pada 10 – 15 tahun pertama pajanan. Dan kemudia berkurang progresifitasnya. Hal ini kontras dengan penurunan pendengaran karena usia yang meningkat terus seiring bertambahnya umur.
    • Bukti yang ada menunjukkan bahwa pajanan kebisingan awal tidak lebih sensitif daripada pajanan kebisingan sesudahnya.
    • Tidak ada cukup bukti yang menyimpulkan bahwa progres penurunan berkurang setelah kebisingan dihentikan.
    • Namun demikian, dari data hewan dan manusia proses pemulihan berlangsung lambat atau tertunda.
    • Risiko NIHL rendah pada pajanan 85 dB (8 jam rata – rata pajanan) dan meningkat sangat signifikan pada pajanan diatas 85 dB.
    • Kebisingan yang terus menerus selama jam kerja sangat merusak dibanding kebisingan yang terputus – putus, yang memungkinkan telinga memiliki masa istirahat, saat ini pengukuran efek kebisingan yang intermiten masih kontroversial.
    • Alat peredam suara sangat bervariasi dan sangat individual, reduksi kebisingan yang digunakan pekerja lebih rendah daripada yang ada di laboratorium. Alat pelindung telinga harus dapat meredam kebisingan dibawah 85 dB dan teknologi saat ini bisa dimungkinkan dan terus memantau kesehatan gendang telinga.
    • Terjadinya perubahan ambang batas sementara ( temporary threshold shift) — penurunan pendengaran pulih sementara 16 – 48 jam setelah pajanan suara keras — beserta atau tidak dengan tinitus (suara mendenging), hal tersebut adalah satu risiko yang mengindikasikan permanen NIHL jika terjadi berulang atau terus menerus.
    • Terjadinya perubahan ambang batas sementara akan selalu menjadi ambang dengar yang permanen.

Tambahan Pertimbangan dalam Mengevaluasi Pekerja dengan NIHL

  • Kebisingan yang unilateral seperti suara sirene dan ledakan harus dirujuk untuk menyingkirkan dugaan lesi pada retrokoklear, dan dipikirkan penempatan kerja ulang pada pekerja berkenaan dengan sumber kebisingan itu.
  • Pada studi hewan percobaan menunjukkan penambahan frekuensi bising yang meningkat lebih berbahaya dibanding bising yang konstan.
  • Pada hewan pajanan solvents (seperti styrene, methylstyrene, toluene, pxylene, ethylbenzene, n-propylbenzene, trichloroethylene, and n-hexane), bersinergi dengan kebisingan dan menyebabkan kehilangan fungsi pendengaran karena ototoksikAsphyxiants (carbon monoxide dan hydrogencyanide), beberapa nitriles (seperti acrylonitrile) dan  logam berat sepeti timah hitam, mercury dan timah juga ototoksik. Keterlibatan bahan – bahan tersebut menyebabkan kerusakan pada sel – sel rambut koklear, sistem saraf pusat atau keduanya. Peran bahan – bahan tersebut masih pada tahap evaluasi dan harus dipertimbangkan dalam evaluasi penurunan fungsi pendengaran sensorik.

  • Efek dari kebisingan bervariasi pada setiap individu. Dasar – dasar biologinya belum sepenuhnya jelas dan faktor komorbid seperti penyakit jantung, diabetes melitus dan penyakit degenerasi saraf terhadap kehilangan pendengaran belum sepenuhnya jelas.
  • Banyak sekali kasus penurunan fungsi pendengaran sensorik yang bukan akibat pekerjaan. Penyebab utama pada non pekerjaan antara lain mendengar musik keras, latihan menggunakan senjata, olahraga bermotor. Penyebab luas lainnya adalah kelainan genetik, penyakit infeksi seperti labirinitis, campak, gondongan, sifilis, bahan obat (aminoglikosida, diuretik, salisitat, anti neoplastik), cedera kepala, terapi radiasi, gangguan saraf (sperti multiple sklerosis), gangguan pembuluh darah otak, gangguan imun tubuh, penyakit tulang (Paget Diseases), neoplasma sistem saraf pusat dan M´eni`ere disease. Riwayat kesehatan bisa menentukan apakah suatu kondisi penurunan fungsi pendengaran berhubungan tidak dengan pekerjaan.
  • Jika muncul kasus penurunan fungsi akibat bising bukan karena pekerjaan diketahui secara dini maka rujukan ke Dokter Spesialis THT direkomendasikan.
  • Pekerja dengan NIHL signifikan menunjukkan ketulian, tinitus (telinga berdenging dan gangguan berbicara). Pada tugasnya sehari – hari akan berdampak dalam kelancaran komunikasi dan keselamatan (safety). Kondisi lain adalah terjadinya depresi, terisolasi, dan meningktakan risiko terjadinya kecelakaan. Pekerja yang terbukti mengalami NIHL membutuhkan evaluasi dan perlindungan dari kondisi yang lebih buruk.
  • Karena NIHL bersifat irreversible (tidak bisa pulih) deteksi dini dan intervensi adalah pencegahan yang utama, penurunan 10 dB pada nada murni 200. 3000 dan 4000 Hz (OSHA standar threshold shift atau STS) yang tidak signikan menurunkan fungsi pendengaran tapi penting untuk sebagai deteksi dini penurunan fungsi pendengaran dan kerusakan sel rambut koklear. Tinitus (telinga berdenging) adalah salah satu pertanda akan munculmya NIHL. 10 dB STS tanpa koreksi umur atau 8 dB dengan koreksi umur memiliki nilai prediksi yang lebih positif dalam mengindentifikasi gangguan pendengaran. Disamping itu pekerja yang masuk dalam  hearing conservation programs dan mendapat pemeriksaan audiometri serial secara periodik harus di evaluasi secara hati – hati dan diberi nasihat agar menghindari kebingan dan menguanakan alat pelindung diri yang sesuai.
  • Koreksi umur pada pemeriksaan audiometri adalah metoda untuk menstandarkan umur, yang mana mengijinkan perbandingan penurunan fungsi pendengaran pada populasi umum. OSHA mengijinkan tapi tapi tidak mensyaratkannya untuk mengunakan koreksi umur. Faktor koreksi umur adalah untuk populasi dimana beberapa individu akan menunjukkan korelasi yang sesuai dan sebagian lagi tidak. Koreksi umur pada audiometri populasi umum pada pergeseran 10 dB sedikit dilaporkan, sehingga jika ada pergeseran demikian pada audiometri pekerja Dokter OH harus mengambil peran.
  • Setiap penilaian dari kehilangan/penurunan fungsi pendengaran mensyaratkan meninjau semua hasil audiometri terdahulu, seluruh riwayat pengukuran kebisingan, data – data APD, riwayat kesehatan yang kesemuanya untuk penegakan diagnosis NIHL. Rujukan untuk pemeriksaan audiology yang komprehensif termasuk hantaran tulang diperlukan untuk membedakannya dengan penurunan fungsi pendengaran yang natural.

Peran Dokter OH (Occupational Health Doctor)

  • Dokter OH memainkan peran penting pada pencegahan NIHL di tempat kerja dan untuk membuat bukti klinis diagnosis. Dokter OH harus paham faktor – faktor apa saja yang menyebabkan kebisingan pada tempat kerja atau kebisingan diluar tempat kerja. Juga memahami patofisologi dari NIHL, gejala klinis dan karakteristik audiometri. Membuat diagnosis NIHL adalah langkah yang penting dalam pencegahan penurunan fungsi pendengaran pada pekerja yang lain. Dokter OH harus bekerja sama dengan manajemen dan profesional K3 lainnya dalam melakukan evaluasi pajanan kebisingan dan memberikan pendidikan pada pekerjaan berkenaan dengan risiko pajanan kebisingan (ditempat kerja atau diluar tempat kerja) dan mengurangi bahaya potensial tersebut.

Standar Penentuan Penurunan Fungsi Pendengaran

  1. CDC (Centers Diseases Control and Prevention) adalah salah satu komponen Depkes nya Amerika. dan NIOSH (The National Institute for Occupational Safety and Health) adalah yang membuat standar, penelitian pencegahan penyakit dan kecelakaan kerja. Dalam  rekomendasinya  tercantum Jika dalam monitoring audiogram hearing threshold level sama dengan atau melebihi 15 dB pada frekuensi 500, 1000, 2000, 3000, 4000 dan 6000 Hz maka pemeriksaan harus di ulang dan dipastikan segera. Karena biasanya hanya sementara. Jika menetap maka telah terjadi penurunan fungsi pendengaran.
  2. OSHA (Occupational Safety & Health Administration) adalag Depnakenya Amenrika mencantumkan di sini : Sebagaimana digunakan dalam bagian ini, pergeseran ambang batas standar (STS) adalah perubahan dalam pendengaran ambang relatif terhadap audiogram dasar dari rata-rata 10 dB atau lebih pada tahun 2000, 3000, dan 4000 Hz di kedua telinga.
  3. Panduan Klaim Kecatatan Jamsostek . Kalau sudah berubah saya nggak update. Pada bagian
    URAIAN CACAT DAN PENILAIAN TINGKAT CACAT
    A. TELINGA DAN SISTEM PENDENGARAN1. Tingkat cacat ditentukan dengan mengukur nilai ambang dengar (HearingThreshold Level = HTL), yaitu angka rata-rata penurunan ambang dengan dB pada frekuensi 500, 1000, 2000, 4000 Hz.
    Penurunan nilai ambang dengar dilakukan pada kedua telinga 
    1.1. Telinga normal : Pada pemeriksaan audio metrik ambang dengar tidak melebihi 25 dB dan di dalam pembicaraanbiasa tidak ada kesukaran mendengar suaraperlahan
    1.2. Tuli ringan : Pada pemeriksaan audio-metrik ambang dengar 25 40 dB dan terdapat kesukaran mendengar.
    1.3. Tuli sedang : Pada pemeriksaan audio-metrik terdapat ambangdengar antara 40 – 55 dB Seringkali terdapatkesukaran untuk mendengar pembicaraan biasa
    1.4. Tuli sedang berat : Pada pemeriksaan audiometri terdapat ambangdengar rata-rata antara 55 70 dB. Kesukaranmendengar suara pembicaraan kalau tidak dengansuara keras.
    1.5. Tuli berat : Ambang dengar rata-rata antara 70 90 dB. Hanyadapat mendengar suara yang sangat keras.1.6. Tuli sangat berat : Ambang dengar 90 dB atau lebih. Sama sekali tidakmendengar pembicaraan.

Dari ketiga standar diatas Indonesia mempunyai pemahaman yg berbeda karena tidak berkesan sebagai penurunan fungsi tapi seolah pemeriksaan audiometri yang sewaktu dan bukan membandingkan dua hasil pemeriksaan audiometri dalam kurun waktu yang berbeda. Terilhat di Jamsostek itu penurunan mulai 25 dB sampai 90 dB itu sesuatu yang muskilatul (aneh).

 

 

 

468 ad

6 Responses to “Noise Induce Hearing Loss”

  1. Pembahasan yang sangat bagus sekali dr. Arief. Ini artikel yang saya cari. Ada yang saya ingin tanyakan, untuk mendiagnosis Occupational NIHL apakah bisa dilakukan oleh seorang dokter perusahaan saja, ataukah harus dokter kesehatan kerja? Apakah dokter kesehatan kerja disini sama dengan dokter pemeriksa kesehatan tenaga kerja seperti pada Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan Nomor Kep. 22 /DJPPK/V/2008 Tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Kerja? Mohon bimbingannya.

    • Pak Indra,

      Diagnosis NIHL tentunya dapat ditegakkan oleh dokter perusahaan yang sudah pelatihan Hiperkes ataupun belum. Sedangkan Dokter Kesehatan kerja mengacu pada jenjang S2 Kesehatan Kerja atau Spesialis Okupasi (kelanjutan dari S2 tersebut).

      Jadi dengan data yang dikumpulkan (mungkin S2 atau Spesialis lebih jeli) dapat ditegakkan diagnosis tersebut lihat disini .

      Sedangkan Dokter Pemeriksa adalah dokter perusahaan yang ditunjuk oleh perusahaan sebagai dokter pemeriksa. Jadi masalah kewenangan, jadi meski ada spesialis THT yang memvonis NIHL tetap tidak berlaku kecuali ditunjuk oleh Perusahaan lihat disini

      • Terima kasih sekali atas jawabannya dr. Arief. Jadi dokter perusahaan bisa saja mendiagnosis NIHL ya? Kemudian, apakah ada guidelines atau standar yang bisa saya pakai untuk mendiagnosis NIHL yang mengarah ke PAK/PAHK, terutama di Indonesia? apakah harus menggunakan Permenakertrans NOMOR PER.25/MEN/XII/2008, ttg Pedoman Diagnosis dan Penilaian Cacat karena Kecelakaan Kerja dan PAK? Mohon bimbingannya.

        • Saya rasa metoda berpikirnya sama saja untuk penegakan diagnosis PAK, justru bukan pada pemeriksaannya tapi pada pembuktian apakah sebelum kerja tidak tuli dan sekarang tuli?

          Jika tuli apakah benar dari lingkungan kerjanya ?
          Jika lingkungan kerja memang terasa bising apakah melebihi ambang…./? dst

          Bagaimana provider pemeriksa audiometri nya ? apakah sesuai standar? dst

          • Oh begitu ya dok. Terima kasih atas penjelasannya. Terima kasih sudah membuka pikiran saya. Saya sebaiknya mengumpulkan data pre-employee nya dulu kemudian dibandingkan dengan temuan yang ada sekarang. Terima kasih dr. Arief. Salam kenal.

          • Sama – sama,
            Jangan lupa pilih provider yg bonafid, alat dikalibrasi dan operatornya ada sertifikat terlatih.

Leave a Reply