Pajanan Formaldehid dalam gedung perkantoran

Posted by on Oct 4, 2015 in Health Surveillance, Industrial Hygiene | 0 comments

Pajanan Formaldehid dalam gedung perkantoran

Pendahuluan

Kualitas udara dalam ruang tertutup di ruang perkantoran tergantung pada kondisi gedung., jumlah orang, ventilasi dan peralatan didalamnya sebagai sumber polutan. Para karyawan menghabiskan 58 – 78 % waktunya dalam ruangan itu., sehingga kualitas udara dalam gedung yang mengandung polutan akan mempengaruhi kesehatan karyawan tersebut. Kualitas udara yang baik dalam ruang mengandung porsi yang sama seperti di alam.

Respon psikologis masing – masing karyawan terhadap kualitas udara berbeda-beda , oleh sebab itu perlu diketahui proporsi kualitas udara raung perkantoran yang seimbang dan aman seperti halnya kualitas udara dalam daerah industri.

Pada masa 60 an tahun yang lalu ketika semua perabotan masih bersifat asli dan belum banyak rekayasa untuk pengawetan mungkin kualitas udara dalam gedung belum banyak masalah. Dewasa ini ketika beberapa produk sudah mulai memperhitungkan efisiensi dan keindahan, banyak bentuk yang dirancang dan dibentuk sesuai ruang dan ergonomi menuntut bentuk yang tidak asli lagi. Perubahan bentuk dan efisiensi ini memerlukan beberapa bahan dasar yang mudah dibentuk, maka munculah particle plywood yang mengunakan lem dan pengawet. Pada akhirnya pengaturan ruang kerja yang nyaman dan efisien akan memiliki peralatan kantor yag menyebabkan ruangan penuh dengan bahan – bahan kimia baru hasil penguapan peralatan kantor tadi.

Alat tulis menulis dan cetak pun mengeluarkan VOC (solven) yang menguap saat digunakan. Hal ini tidak menjadi masalah pada ruang terbuka karena akan segera diencerkan. Pada ruang tertutup bahan – bahan ini perlu waktu untuk diencerkan, sehingga individu sempat terpajan uap VOC yang belum encer.

Parameter “bau” pada kualitas udara dalam ruang termasuk respon psikologis yang cukup penting untuk digunakan sebagai pendeteksi awal. Bau yang tidak diinginkan dan berlangsung enetap perlu ditindaklanjuti mencari sumber bau. Demikian pula halnya dengan suhu, pencahayaan dan kelembaban.

Sick buildig syndrome merupakan 20% dari keluhan yang sering diutarakan oleh pekerja dalam gedung. Keluhan yang disampaikan tidaklah gejala spesifik dan tanda yang ada biasanya common cold  biasa atau keluhan saluran pernapasan lain. Hal tersebut akibat ventilasi yang tidak adekuat yang berhubungan dengan air handling unit , distribusi udara yag kurang memadai , terjadinya insufisiensi udara segar (kurang dari 50-52%) , kontaminasi dari alat kantor, rokok, produk pembersih (17-19%), kontaminasi dari udara luar yang terhisap kedalam gedung (11%), kontaminasi mikrobiologi, formaldehid dan material solven dari materi dekorasi ruang (5%).

Formaldehide

Sinonim

Formaldehide mempunyai sinonim yang cukup banyak antara lain methylene oxide; formalin; exhaust component; rosin core solder pyrolysis product; methanal; metilen glycol dan paraformaldehide. Zat ini tidak berwarna dan berbau sangat kuat. Formaldehide dicampur alkohol sebagai stabilizer banyak digunakan dalam laboratorium medis.

Rumus bangun

Formaldehide dibentuk dari metana yang dioksidasi menjadi formaldehide dengan rumus bangun HCOH.

Industri Pengguna Formaldehide

Formaldehide diproduksi sebagai bahan dasar oleh pabrik kimia dengan melakukan reaksi kimia terhadap metana. Formaldehide digunakan secara luas dalam bentuk urea-formaldehid, amino dan fenolik resin dalam industri untuk bahan kimia dasar bagi etilendiaminetetraacetic acid, metilen dianilin, hexametilentetramine  dan nitril oacetic acid.

Hasil produksi tersebut digunakan dalam industri particle board  sebagai perekat sekaligus pengawet, beberapa industri alat rumah tangga dari kayu, industri lem itu sendiri, pelapis kertas, plywood, fungisida, bakterisida dan desinfektan. Disamping itu juga digunakan dalam industri plastik, karpet, urea-formaldehyde foam insulation, resins untuk membuat beton kontruksi, tekstil, cat, perabot, pengawetan jenazah dan kadaver di laboratorium anatomi. Hasil pembakaran yang tidak sempurna pada hidrokarbon dan rokok juga menghasilkan formaldehid.

Standar Pajanan terhadap Formaldehi

Standar dari OSHA untuk perlindungan bagi pekerja industri dalam Tile 29 of the Code Federal Regulations (CFR) Part 1910.1048  dan peraturan lain yag sesuai dengan OSHA pada bentuk gas, campuran dengan bahan lain atau bahan lain yang mengandung formaldehid the permisible exposure limits (PELs) adalah 0,77 ppm yang diukur dalam 8 jam kerja time-weighted average (TWA). Short-term exposure limit (STEL) adalah 2 ppm dalam 15 menit. Surveilans kesehatan dilakukan bila kadar 5 ppm telah dilampaui.

Formaldehid juga digolongkan sebagai bahan yang dicurigai penyebab kanker dalam American Conferences of Governmental Industrial Hygienists (ACGIH) TLV & BEIS  dengan batas pajanan 1 ppm TWA dan 2 ppm STEL. Dari National Institute for Occupational Safety and Health ((NIOSH) menetapkan 0,00016 ppm TWA , 0,1 ppm (15 menit). Pajanan yang terjadi akibat penguapan formaldeh dari baha jadi seperti meubeler/perabot, karpet, kertas belum ditentukan.

Pajanan Formaldehid pada Pekerja dalam Gedung

Konsentrasi formaldehid dalam gedung bersifat episodik dan tergantung pada suhu dan kelembaban yang menyebabkan lepasnya formaldehid dari barang – barang kayu dengan pengawet formadehid. Kondisi ventilasi yang kurang baik akan menyebabkan makin tingginya konsentrasi.

Barang/bahan yang menjadi perhatian utama sebagai sumber polutan udara dalam gedung adalah barang/bahan yang terbuat dari kayu dan produk kayu lainnya yang mengandung urea formaldehid (UF) resin dan urea formaldehid foam insulation (UFFI). Emisi formaldehid dari bahan – bahan tersebut dan kurang optimalnya ventilasi akan meningkatkan konsentrasi formaldehid dalam gedung yang menyebabkan masalah pada tahun 1970 – 1980 di negara maju.

Tabel 1. Emisi Formaldehid dari berbagai Materaial dalam Gedung
Range of formaldehyde emision rates (ug/m/day
Medium-density fibreboard 17.600 – 55.00
Hardwood plywood panelling 1.500 – 34.000
Particleboard 2.000 – 25.000
Urea-formadehyde foam insulation 1.200 – 19.000
Softwood plywood 240 – 720
Paper products 260 – 680
Fibreglass products 400 – 470
Clothing 35 – 570
Resilient flooring < 240
Carpeting 0 – 65
Upholstery fabric 0 – 7

Tabel 1 menunjukkan emisi formaldehid tertinggi berasal dari material kayu dengan pengawet, di ikuti particle board yang dibuat dari campuran partikel kayu yang dicampur dengan resin dan kemudian dimampatkan (6 – 8% beratnya) dan dibentuk menjadi papan panel, perabot atau lainnya.

Emisi pertama formaldehid dari semua produk kayu tersebut adalah residu formaldehid yang terperangkap dalam resin. Emisi terbesar terjadi pada produk yang masih baru dan tergantung pada ketebalan produk, kadar formaldehid di dalamnya, sumber formaldehid lain, suhu, kelembaban dan perilaku pekerja termasuk tata letak dan ergonominya. Lima puluh persen lebih emisi produk baru terjad 8-9 bulan. Emisi kedua terjadi ketika terjadi hidrolisis dari urea formaldehid resin yang dipengaruhi peningkatan suhu dan kelembaban.

Metabolisme Formaldehid dalam tubuh

Formaldehid intrasel berbentuk sebagai N, N10  – methyllenetrahydrofolic acid . Formaldehid dapat diabsorpsi melalui inhalasi, ingesti atau penyerapan melalui kulit. Lebih dari 95% dosis yang di inhalasi diserap dan segera dimetabolisme menjadi asam formik oleh formaldehid dehidrogenase. Formaldehid hilang dari plasma dengan waktu paruh 1-1,5 menit sehingga peningkatan kadar formaldehid dalam plasma tidak dapat dideteksi secara cepat jika pajanan melalui inhalasi.

Sebagian formaldehid dikonversi menjadi CO2 lewat format dan fraksi kecil diekskresikan ke dalam urin sebagai format dan metabolit lain. Formaldehid berinteraksi dengan makromolekul seperti DNA, RNA dan protein yang kemungkinan merupakan penyebab efek karsinogeniknya.

Gejala dan Tanda Klinis

Pajanan Akut

Pajanan akut formadehid menyebabkan iritasi langsung kulit dan saluran pernapasan. Dermatitis kontak alergi dan iritan terjadi mengikuti reaksi hipersensitif tipe IV (lambat). Setelah beberapa hari pajanan larutan formaldehid atau formadehid yang mengandung resin pekerja akan mengalami reaksi urtikaria mendadak dari kulit kelopak mata, wajah, leher dan permukaanfleksor dari lengan.

Dermatitis kontak alergi mungkin muncul penguna kosmetik, produkperawatan tubuh lain, limbah cucian, cat yang larut air atau produk fotografi. Tidak ada hubungan antara penyakit kulit akibat formaldehid dengan riwayat atopi.

Iritasi langsung pada mata, hidung dan tenggorokan terjadi pada beberapa orang dengan kadar 0,1 – 3 ppm dari uap formaldehid. Bau menyengat adalah dalam batas 0,05 – 1 ppm dan beberapa individu mulai teriritasi pada diatas atau dibawah ambang tersebut. Napas yang pendek , batuk, dan sesak napas terjadi pada 10 – 20 ppm. Pajanan 50 – 100 ppm dan dan diatasnya menyebabkan edema paru, pnemonitis atau kematian. Gejala iritasi sehubungan dengan pajanan formaldehid tidak menunjukkan respon imunologik berupa peningkatan IgE atau IgG antibodi pada formaldehid-serum albumin manusia.

Pajanan Kronis

Kanker

Karsinoma sel skuamosa epitel nasal tikus terinduksi pada pajanan di atas 2 tahun. Penyelidikan biokomia dan fisiologi pada tikus telah menunjukkan inhalasi formaldehid dapat menekan pernapasan dan menghambat pembersihan mukosiliar, menstimuli poiliferasi sel dan cross-link DNA dengan protein dalam mukosa nasal, Beberapa studi epidemilogi menunjukkan bahwa pajanan formaldehid dapat meningkatkan insidens kanker paru, terutama pada pekerja yang terpajan berjam – jam dengan pajanan formaldehid tinggi yang terakumulasi.

Penyelidikan lain menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pajanan formaldehid dan kematian akibat keganasan penyakit saluran pernapasan. Hasil yang tidak konsisten juga didapat pada studi kanker nasofaring, tapi penemuan metaanalisis terakhir menunjukkan peninggakatan risiko kanker nasofaring pada pajanan tinggi. Tiga kasus keganasan melanoma pada mukosa nasal telah dilaporkan pada pekerja yang terpajan formaldehid . IARC telah menemukan bukti pada binatang dan bukan pada manusia untuk keganasan akibat formaldehid (group 2A). NIOSH merekomendasikan bahwa formaldehid potensial sebagai karsinogenik pada manusia.

Asma Akibat Kerja

Telah dilaporkan hasil pajanan resin debu formaldehid terhadap pekerja dengan asma. Seorang pasien dengan pajanan formaldehid mempunyai IgE positif dan IgG titer formaldehid-serum albumin manusia dan reaksi positif pada kulittapi negatif pada metakolin. Sebuah penyelidikan pada mahasiswa kedokteran yang terpajan formaldehid (termasuk yang asma) dilaporkan tidak terdapat perubahan pada gejala atau fungsi paru selama periode 7 bulan. Tidak ada perubahan bermakna pada fungsi paru atau reaksi bronkus pada subyek normal atau asma yang dites terpajan formaldehid.

Aborsi spontan pada pekerja kosmetik dan pekerja laboratorium berhubungan secara bermakna dengan penggunaan formaldehid sebagai desinfektan dan formalin.

Temuan Laboratorium

Hati dan Ginjal

Tes rutin pada fungsi hati dan ginjal secara umum belum pernah diukur. Pengukuran asam formik dalam urin secara umum tidak mendukung pada pengukuran waktu paruh formaldehid yang singakt.

Kulit

Jika dicurigai dermatitis kontak, tes patch dapat dilakukan dengan konsentrasi formaldehid yang sesuai.

Sistem Pernapasan

Batuk, napas pendek atau wheezing mungkin berhubungan dengan penurunan FEV1. Peak flow selama bekerja mungkin mengalami penurunan setelah pajanan formaldehid. Setelah pajanan 20 – 30 ppm formaldehid., foto rontgen dada mungkin menunjukkan edema jaringan interstitial dan alveolus dengan hasil reduksi oksigen pada analisa gas darah .

Diagnosis Banding

Di tempat kerja yang banyak gas dan uap mungkin menunjukkan gejala iritasi saluran pernapasan bagian atas. Gejala iritasi mata dan tenggorokan pada pekerja kantor mungkin berhubungan dengan ventilasi yang tidak adekuat, rokok,lem dan solven dari alat kantor. Hubungan antara gejala dengan pengukuran kadar formaldehid dalam lingkungan tertutup (kantor) menjadi sulit.

Pencegahan

Tempat Kerja

  • Pada tempat kerja dengan formaldehid, goggles atau pelindung muka plastik sebaiknya digunakan apabila kemungkinan percikan terjadi.
  • Pada tempat dengan konsentrasi formaldehid tinggi harus menggunakan respirator dengan catridge.
  • Pakaian, sepatu noot dan sarung tangan harus selalu dipakai pada kontak kulit.

Surveilans Kedokteran

  • Monitoring biologis dengan pengukuran konsentrasi format pada urin tidak membantu pada konsentrasi formaldehid diatas 1 ppm.
  • FEV 1 dan FVC sebagai data dasar perlu dipertimbangkan.
  • Perubahan sitogenik pada sel epitel mulut dan limfosit darah berguna dalam monitoring biologis pajanan formaldehid. Perubahan mukosa nasal meliputi hilangnya bulu siliar, hiperplasia sel goblet, metaplasia sel skuamosa dan displasia sedang.

Pengobatan

Dalam kasus iritasi mata dan kontak kulit, segera lakukan irigasi dengan air mengalir selama 15 menit dan hilangkan semua kontaminan pada pakaian. Segera pndahkan pasien ke udara terbuka pada pajanan inhalasi dengan oksigenasi pada gejala sesak napas dan hipoksemia.

Pada pajanan formaldehid 20-30 ppm harus diobservasi selama 6 – 8 jam.

Penutup

Adanya formaldehid dalam gedung perkantoran didapat dari peralatan kantor dan perabot yang masih baru dimana formaldehid sebagai campuran dalam pelapis cat atau perekat masih dalam proses penguapan. Retakan perabot lama juga akan menyebabkan kandungan formaldehidnya mengap dan mulai mencemari udara.

Ventilasi yang buruk diruang kerja menambah besar kemungkinan efek penguapan formaldehid. Dengan memperbaiki ventilasi dapat mencegah terjadinya efek yang tidak diinginkan akibat formaldehid.

Kajian tebtang efek formaldehid di gedung perkantoran ini masih sangat sedikit dibandingkan efek formaldehid pada industri itu sendiri atau industri yang menggunakan formaldehid sebagai bahan baku atau bahan pencampur.

468 ad

Leave a Reply