Tolok Ukur Kesehatan Kerja

Posted by on Dec 27, 2013 in Health Surveillance | 2 comments

Tolok Ukur Kesehatan Kerja

Salah satu masalah yang sering diperdebatkan adalah bagaimana mengukur kinerja Kesehatan Kerja (Occupational Health) atau biasa juga disebut KPI (keys performance  indicators) .

Sering dokter perusahaan sendiri tidak mampu menjawab apa sebenarnya yang dapat diukur dari dirinya, karena dia bukanlah seorang 100 % klinikus saat menjadi dokter perusahaan, berbeda jika anda dokter klinik (treating doctor).

Karena Dokter Perusahaan bekerja melakukan setting sistem kesehatan diperusahaan maka tolok ukur juga akan mengacu pada hal tersebut.

Satu hal yang perlu di ingat bahwa dokter perusahaan sebenarnya tidak bisa berbuat banyak dalam perbaikan lingkungan kerja dimana diantaranya jelas merugikan kesehatan pekerja.

Bisa diambil contoh tentang masalah kebisingan, seorang dokter perusahaan hanya mampu melakukan health surveillance dan tidak bisa merubah kebisingan menjadi tidak bising. Perubahan lingkungan bising menjadi tidak bising dilakukan oleh departemen opetration/produksi/plan atau mekanik/pemeliharaan.

Contoh lain adalah pajanan kimia benzene yang menyebabkan kanker darah, dokter perusahaan hanya mampu menyarankan pemeriksaan, menentukan item laboratorium dan deteksi dini. Dokter juga hanya mampu mengusulkan menganti benzene dengan bahan lain yang tidak berbahaya. Tidak mungkin dokter berupaya menganti benzene dengan bahan lain karena selain tidak meiliki pengetahuan tentang bahan penganti dokter juga bukan manajemen yang bisa menentukan alur produksi.

Dokter hanya menerima “akibat” manajemen yang buruk dalam mengelola lingkungan kerja, jadi Dokter Perusahaan hanya berperan kecil dalam  mencegah Penyakit Akibat Kerja (PAK).

Jobdes Dokter Perusahaan, hanya sekedar gambaran kerja sehari – hari dan jika dirangkum maka terdiri atas (menurut saya) :

  1. Menetapkan visi dan misi yang jelas tentang kesehatan
  2. Penilaian Risiko Kesehatan (Health Risk Assessment)
  3. Pengawasan/pemantauan Kesehatan (Health Surveillance)
  4. Pencegahan penyakit dan Penyuluhan Kesehatan (Preventive and Health Promotion)
  5. Merancang dan menerapkan instrumen kebijakan pada kesehatan pekerja (Devising and Implementing Policy instruments on Workers’ health)
  6. Medical Emergency Respon Plan

Sebagian orang merasa bahwa KPI berupa angka atau presentase dan mengunakan angka seperti Incident Frequency Rate (angka seringnya kejadian) dan Incident Severity Rate (angka keparahan). Sebagaimana lagi mengunakan istilah yang tidak ada di literatur statistik kedokteran atau kesehatan yaitu CMR (crude morbidity rate atau jika boleh diterjemahkan sebagai angka kesakitan kasar). CMR* sebenarnya Crude Mortality Rate atau angka kematian kasar pada suatu populasi dan tidak ada istilah Crude Morbidity Rate.

Crude Moratlity Rate juga biasa disebut Crude Death Rate tentunya kita tidak mau menetapkan ini di perusahaan bukan ???

Rate mengambarkan angka terhadap suatu situasi atau keadaan, dan bisa saja berupa suatu hasil upaya tertentu yang menghasilkan naik atau turun nya Rate. Jika anda mengunakan IFR atau ISR bahkan CMR (!)* diansumsikan perusahaan melakukan upaya tertentu untuk menekan Rate tersebut, tapi masalahnya upaya atau intervensi yang dilakukan adalah intervensi pada variable yang hampir mustahil dikendalikan. Misalnya jika IFR adalah jumlah kejadian dibagi jumlah jam kerja di kali 1.000.000 maka bagaimana anda bisa mengendalikan jumlah kejadian sakit ? atau lebih parah jika memakai ISR yaitu jumlah hari hilang dibagi jam kerja dikali 1.000.000…..bagaimana mungkin menekan ISR ? jika rumah sakit merawat 2 saja karyawan anda selama sebulan penuh ??? bagaimana juga anda mengatasi jumlah kunjungan di klinik (ooohhh masih bisa jika karyawan sehat atau lebih ekstrim jika kliniknya ditutup maka kunjungan langsung anjlok), tapi bagaimana mengendalikan kunjungan ke klinik dan RS di luar perusahaan…???

Rate – rate diatas tidak megukur upaya dan tidak menilai usaha bidang kesehatan, seberapa keras penyuluhan dan bagaimana memenuhi standar kesehatan tidak dinilai jika perusahaan hanya menggunakan rate.

Untuk itu KPI yang saya maksud penjabaran sebagai berikut :

Penilaian Risiko Kesehatan (Health Risk Assessment); Jika hal ini dilaksanakan maka poin bagus buat OH. Sayang nya banyak perusahaan mendelegasikan hal ini ke orang yang tidak mampu untuk menilai atau tidak cakap. Untuk itu saya biasanya membimbing para dokter site agar melakukan review dibawah supervisi saya.

Hal pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan semua data HIRADC dan dokter melakukan stabilonisasi (meng highlight semua temuan yang berdampak kesehatan yang dituliskan oleh orang tidak terlatih tersebut dengan spidol stabilo).

Semua hal yang sudah di stabilo ditulis ulang dalam excel dan mulai dipelajari, selain itu bukan hanya yang keliru ditulis tapi juga apa yang seharusnya ditulis.

Kinerja yang baik jika tim klinik juga melakukan bantuan secara aktif dalam membuat HRA (HIRADC), dengan aktif ikut serta dalam pembuatan HRA maka tidak ada kerja dua kali dalam mereview.

Pengawasan/pemantauan Kesehatan (Health Surveillance)Terdiri dari rangkaian usaha untk mengumpulkan data survey kesehatan antara lain :

  1. Membuat rencana kerja tahunan dengan detail sampai ke minggu – minggu kegiatan
  2. Mencatat setiap kunjungan klinik dalam log book, mencakup nama, nik, diagnosis, terapi dan keterangan lain.
  3. Menuliskan rekam medik dengan metoda SOAP.
  4. Mencatat setiap rujukan RS, Laboratorium atau yang lain.
  5. Selalu menyediakan form inform consent.
  6. Mencatat keluar masuk obat.
  7. Melakukan universal precaution.
  8. Melaksanakan program ergonomi antara lain ergonomi kantor, produksi, pemeliharaan dan seluruh aspek kerja di perusahaan.
  9. Rasionalisasi pemakaian obat.
  10. Memantau penyakit terutama deteksi dini PAK dan PAHK, penyakit degeneratif dan penyakit wabah.
  11. Memantau higiene kantin.
  12. Memantau rujukan
  13. Dan lain – lain

Daftar diatas adalah “daftar” yang dinilai adalah isi dari daftar tersebut dan ketercapaiannya, masing – masing memiliki parameter yang dikategorikan baik sedang atau buruk.

Saya biasa mengunakan presentase dalam memberikan nilai daripada score.

Pencegahan penyakit dan Penyuluhan Kesehatan (Preventive and Health Promotion); Pencegahan penyakit tidak melulu melakukan penyuluhan, pencegahan penyakit yang aktif dilakukan antara lain, menyusun menu sehat, memantau menu DM dan Hipertensi, menyusun senam ergonomi, melakukan perubahan area kerja lebih higien dan ergonomis,

Termasuk pencegahan penyakit juga jika tata cara mencuci tangan tidak sekedar ditempel tapi diajarkan orang – per orang, termasuk didalamnya mengajarkan tidak gonta ganti alat cukur punya orang, handuk punya orang atau perilaku tidak higienis lain yang menyebabkan tertular Hepatitis B atau C.

Promosi kesehatan kalau cuma pakai power poin saja bukanlah promosi kesehatan, promosi kesehatan harus memiliki target perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku. Minimal anda membuat pre dan post tes.

Setiap poster, brosur dan leaflet yang anda buat harus berdampak minimal pada pengetahuan, lebih baik tidak usah menempelkan poster kesehatan yang tidak akan menambah pengetahuan atau merubah sikap.

Tolok ukurnya adalah bukan banyaknya anda melakukan penyuluhan atau bikin poster, tapi perubahan sikap dan perilaku.

Merancang dan menerapkan instrumen kebijakan pada kesehatan pekerja (Devising and Implementing Policy instruments on Workers’ health); bagian ini banyak saya bahas di Dasar Hukum Dokter Perusahaan bisa saya singkat disini bahwa Undang – undang dan peraturan Kesehatan Kerja nggak kurang banyaknya di Indonesia dan untuk menerapkannya anda butuh orang khusus yaitu Dokter Perusahaan.

Medical Emergency Respon Plan; Dalam pembahasan Klinik Perusahaan tertulis bahwa fungsi utama dari klinik adalah untuk penanganan Gawat Darurat.

Rencana keadaan emergency medik disini berarti klinik harus memiliki suatu rencana, rencana rute emergency, rencana personil dan rencana peningkatan kemampuan individu. Upaya inilah yang dinilai….bukan sekedar upaya tapi buktinya mana kalau sudah siap keadaan emergency ?

 

468 ad

2 Responses to “Tolok Ukur Kesehatan Kerja”

  1. setuju dok…promosi kesehatan juga akan lebih ‘mengena’ jika tenaga medis bisa mencontohkan secara langsung prilaku hidup sehat dikehidupan sehari-harinya…

  2. preventive promotive akan lebih efektif jika sang dokter memberikan contoh, lalu berusaha mempengaruhi key person key position untuk ikutan terlibat, sedemikian shg secara tidak disadari terjadi penglibatan kegiatan2 secara berjenjang , sampai suatu titik dokter perusahaan bias mengumpulkan data2:
    1) jumlah / persentase partisipasi
    2) parameter kesehatan / kebugaran yang meningkat (dari hasil pemeriksaan kesehatan berkala)
    3) parameter angka absent krn kesakitan (sick leave) yang menurun
    4) parameter angka lembur yang terkendali
    5) survey persepsi perihal kebugaran – ketahanan mental

Leave a Reply